(Sajak sandiwara panggung)
theatermu indah wahai pantomim yang lucu
teruslah berlatar seperti itu
agar gemulai sandiwaramu
karena, masih banyak penikmat setia panggungmu
tenang saja, kenikmatanmu berjalan selama senyum manis merah bibirmu
tersungging tetap dibibirmu
bukan derai air mata dipipimu
teruslah berlatar seperti itu
agar gemulai sandiwaramu
karena, masih banyak penikmat setia panggungmu
tenang saja, kenikmatanmu berjalan selama senyum manis merah bibirmu
tersungging tetap dibibirmu
bukan derai air mata dipipimu
saksi langitku
saksi bumiku
saksi warnaku
mereka semua berbisik malam itu
mimikmu madu dan susu
bagi siapa saja penikmat waktu
saksi bumiku
saksi warnaku
mereka semua berbisik malam itu
mimikmu madu dan susu
bagi siapa saja penikmat waktu
entah pagi, siang, bahkan malam-malam yang membiru
andai saja aku boleh mengadu kembali...
pada mahkamah air mataku
pada sujud kaki ibuku
dan pada pemilik langit biru
pada mahkamah air mataku
pada sujud kaki ibuku
dan pada pemilik langit biru
ahh...namun aku malu
terus mengadu
karena ini canda dan tawa milikku
yang kumulai tanpa haru
dan aku berjanji...
takkanku akhiri dengan pilu
terus mengadu
karena ini canda dan tawa milikku
yang kumulai tanpa haru
dan aku berjanji...
takkanku akhiri dengan pilu
karena pementasan theatermu bara saja dimulai
dan aku masih ingin menikmatinya
dengan berlama-lama menyeruput kopi hitam
dan mengepulkan asap cerutu dibibirku
dan aku masih ingin menikmatinya
dengan berlama-lama menyeruput kopi hitam
dan mengepulkan asap cerutu dibibirku
IR, sukorejo 13 September 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar