Senin, 14 September 2015

AJARI AKU MENGEJA MENCINTAIMU

Kala aku mulai mengeja
mengecap rasa
semuanya mulai manis
kemudian ada yang terasa asam
kecut bahkan terkadang pahit
hidupku mungkin demikian
rasakan, nikmati, tuntaskan
kecuali pertemuan menghampiri
harap apa bagi diri?
caci maki atau kebahagiaan dini
karena tanyaku pada huruf
mampukah engkau terus rangkaikan kalimat
bahkan menjadi prosa atau sastra cinta
karena yang dibaca mulai terbata-bata
bahkan ada yang mulai hilang dari mata
ejakan saja
bacakan saja
aku mendengarkan
diam
diam
terus diam
karena diampun belajar mengeja
mengenali berbagai rasa
dalam proses taffakur dan tadabbur menghamba
mendamba yang ditakdirkan olehNya
bismillahirrahmanirrahim...
jika cinta para hamba
fanakan rasa yang dicipta
biarkan aku memeluk dan mengenali sedikit tanda-tanda dariMu
karena hanya Engkau Sang Maha Kasih
dan karena hanya Engaku sang Maha sayang
dari diri yang sering lalai menyadari
dan lambat mengerti akan sebuah arti

IR, Sukorejo 14 September 2015

Minggu, 13 September 2015

Syahid Fisabilillah

(untuk para syuhada' Mekkah 11 September 2015)

Mekkah Almukarromah
Masjidil Haram
Hujan mengguyur
petir menggelagar
suara keras halilintar
memecah kesunyian
taqarrub illallah...
mendengar kabar berita dari media
sedih dirasa
namun tak dapat berbuat apa-apa
hanya mampu panjatkan doa
para syuhada'
berkumpul menerima panggilanMu yang sebenarnya
takbir!
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar
pertanda apakah?
aku yakin!
karena cintaMu
para syuhada' fisabilillah
amien
dengan segala rahasia didalamnya

IR, Sukorejo 13 September 2015

AHAI LALALA...

(Sajak sandiwara panggung)
theatermu indah wahai pantomim yang lucu
teruslah berlatar seperti itu
agar gemulai sandiwaramu
karena, masih banyak penikmat setia panggungmu
tenang saja, kenikmatanmu berjalan selama senyum manis merah bibirmu
tersungging tetap dibibirmu
bukan derai air mata dipipimu
saksi langitku
saksi bumiku
saksi warnaku
mereka semua berbisik malam itu
mimikmu madu dan susu
bagi siapa saja penikmat waktu
entah pagi, siang, bahkan malam-malam yang membiru
andai saja aku boleh mengadu kembali...
pada mahkamah air mataku
pada sujud kaki ibuku
dan pada pemilik langit biru
ahh...namun aku malu
terus mengadu
karena ini canda dan tawa milikku
yang kumulai tanpa haru
dan aku berjanji...
takkanku akhiri dengan pilu
karena pementasan theatermu bara saja dimulai
dan aku masih ingin menikmatinya
dengan berlama-lama menyeruput kopi hitam
dan mengepulkan asap cerutu dibibirku

IR, sukorejo 13 September 2015